Minggu, 21 Desember 2025

HASIL PENILAIAN KELAS KEMAMPUAN KELOMPOK TANI PAYAKUMBUH BARAT TAHUN 2025

 


1. Gambaran Umum

  • Jumlah kelompok tani dinilai: 49 kelompok
  • Penilaian membandingkan nilai tahun lalu dan tahun 2025, serta dampaknya terhadap kelas kelompok (Pemula, Lanjut, Madya).
  • Hasil menunjukkan dinamika yang cukup tinggi, baik dari sisi perubahan skor maupun perubahan kelas.

2. Perubahan Skor Penilaian

a. Skor Naik

  • 26 kelompok (53%) mengalami kenaikan skor
  • Kenaikan tertinggi antara lain:
    • KWT Lumbuang Rasoki: +255
    • Mata Air: +177
    • KWT Belimbing: +160
    • JK Tuah Sakato: +106
  • Kenaikan skor ini menunjukkan adanya:
    • Peningkatan aktivitas kelembagaan
    • Perbaikan administrasi dan manajemen kelompok
    • Kemungkinan dukungan pembinaan yang efektif

b. Skor Turun

  • 20 kelompok (41%) mengalami penurunan skor
  • Penurunan signifikan terjadi pada:
    • KWT Anggrek: −189
    • Sabik Rasoki: −166
    • KWT Sun Flower: −127
  • Penurunan skor umumnya mengindikasikan:
    • Berkurangnya aktivitas kelompok
    • Administrasi tidak berjalan
    • Minimnya pertemuan atau kegiatan usaha

c. Skor Tetap

  • 3 kelompok (6%) tidak mengalami perubahan skor
  • Menunjukkan kondisi stagnan, tidak ada kemajuan maupun kemunduran berarti.

3. Perubahan Kelas Kelompok

a. Kenaikan Kelas

  • 5 kelompok berhasil naik kelas, di antaranya:
    • Pemula → Lanjut
    • Lanjut → Madya
  • Contoh menonjol:
    • Karya Tani
    • Talang Ilia
    • Mata Air
    • JK Tuah Sakato
    • KWT Hikmah
  • Hal ini menunjukkan pembinaan berjalan efektif pada kelompok tertentu.

b. Penurunan Kelas

  • 2 kelompok mengalami turun kelas, yaitu:
    • Arrahman
    • KWT Permata
  • Penurunan kelas menjadi sinyal perlunya pendampingan intensif.

c. Kelas Tetap

  • 42 kelompok (86%) tetap pada kelas semula
  • Menandakan mayoritas kelompok masih berada pada kondisi stabil, namun sebagian belum cukup berkembang untuk naik kelas.

4. Distribusi Kelas Tahun 2025

  • Kelas Pemula: 23 kelompok (47%)
  • Kelas Lanjut: 23 kelompok (47%)
  • Kelas Madya: 3 kelompok (6%)

Distribusi ini menunjukkan:

  • Struktur kelompok tani masih didominasi Pemula dan Lanjut
  • Kelompok Madya masih sangat terbatas, sehingga perlu strategi peningkatan kapasitas untuk mendorong kelompok Lanjut naik ke Madya.

5. Analisis Per Wilayah & Pembina

  • Terdapat perbedaan capaian antar kelurahan dan PP Wilbi:
    • Beberapa wilayah menunjukkan konsistensi peningkatan (contoh: Padang Tinggi Piliang, Subarang Batuang).
    • Wilayah lain mengalami fluktuasi tinggi, termasuk penurunan skor ekstrem.
  • Ini mengindikasikan perbedaan intensitas pembinaan, partisipasi anggota, dan keberlanjutan kegiatan kelompok.

6. Kesimpulan

  1. Secara umum, kinerja kelompok tani cenderung positif, ditunjukkan oleh lebih banyak kelompok yang mengalami kenaikan skor dibanding penurunan.
  2. Kenaikan kelas masih terbatas, sehingga fokus pembinaan perlu diarahkan pada:
    • Penguatan kelembagaan
    • Administrasi kelompok
    • Pengembangan usaha tani
  3. Kelompok dengan penurunan skor tajam perlu pendampingan khusus agar tidak terus mengalami kemunduran.
  4. Diperlukan strategi berkelanjutan agar kelompok Pemula dan Lanjut dapat meningkat ke kelas yang lebih tinggi, khususnya menuju Madya.

Lebih lengkap tentang penilaian Poktan Pyk Barat Tahun 2025 dapat dilihat pada link berikut: 

Penilaian Poktan Pyk Barat 2025  

Sabtu, 20 Desember 2025

DATA SEBARAN WKPP, GAPOKTAN KELOMPOK TANI DAN LUAS BAKU SAWAH (LBS)


      

    Berdasarkan data Tahun 2025, Kecamatan Payakumbuh Barat memiliki sebaran Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) yang terbagi ke dalam enam WKPP (I–VI) dengan pendamping penyuluh yang berbeda pada masing-masing wilayah. Kegiatan pertanian padi sawah di wilayah ini dikelola melalui berbagai Gapoktan dan Kelompok Tani (Poktan) yang tersebar di sejumlah kelurahan.

    Pada WKPP I yang dibina oleh Toni Agustion, kegiatan pertanian tersebar di Kelurahan Tanjung Pauh, Pakan Sinayan, dan Kubu Gadang. Gapoktan Saiyo Sakato dan Bungo Tanjung menaungi beberapa poktan seperti Solok Mato Aie, Parik Panjang, Rawang Panjang, dan Paku Tiang, dengan total luas baku sawah yang cukup signifikan, antara lain 23,45 Ha di Solok Mato Aie dan 20,35 Ha di Paku Tiang.

    WKPP II berada di bawah binaan Magdalena, STP, meliputi Kelurahan Bulakan Balai Kandi dan Payolansek. Gapoktan Tanjung Harapan dan Usaha Bersama menaungi kelompok tani seperti Sikosan, Ingin Maju, Baliak Saiyo, Tani Mandiri, Bukik Cambang, dan Bukik Palano Sajati, dengan luas baku sawah bervariasi antara 6 Ha hingga 23 Ha.

    Selanjutnya, WKPP III dibina oleh Hartati, mencakup Kelurahan Koto Tangah dan Talang. Gapoktan Talang Saiyo mengelola beberapa kelompok tani seperti Makmur, Arrahman, Karya Tani, dan UBA. Kelompok Tani Karya Tani tercatat memiliki salah satu luas baku sawah terbesar di wilayah ini, yaitu 26,5 Ha.

    Pada WKPP IV, dengan penyuluh Yondra Wardi, A.Md, wilayah binaan meliputi Subarang Batuang dan Padangtinggi Piliang. Gapoktan Setia Kawan, Kawan Lamo, dan Pati Lestari menaungi poktan seperti JKT Sakato, Taruko, Mata Air, dan Berkah, dengan luas baku sawah berkisar antara 5 Ha hingga 20,5 Ha.

    WKPP V dibina oleh Ade Wahyu, meliputi Kelurahan Padangdatar Tanahmati dan Parit Rantang. Gapoktan P3S menaungi kelompok tani Pulutan Sati, Sepakat, Saiyo Sakato, dan Sariak Munggu Panjang. Luas baku sawah pada wilayah ini berkisar antara 6 Ha hingga 15 Ha, dengan tambahan kelompok tani Lakuang Parbati di Parit Rantang seluas 10,94 Ha.

    Terakhir, WKPP VI dengan penyuluh Zulfiarina mencakup Kelurahan Ibuh, Tanjung Gadang Sei Pinago, dan Nunang Daya Bangun. Kelompok tani seperti Solok Naur, Balai Baringin, dan Cimpago memiliki luas baku sawah antara 7,61 Ha hingga 15,7 Ha, serta didukung oleh beberapa Kelompok Wanita Tani (KWT).

    Secara keseluruhan, total Luas Baku Sawah (LBS) di Kecamatan Payakumbuh Barat pada Tahun 2025 mencapai 400,12 Ha. Data ini menunjukkan bahwa sektor pertanian padi sawah di Payakumbuh Barat dikelola secara terstruktur melalui peran aktif penyuluh pertanian, gapoktan, dan kelompok tani, sehingga menjadi potensi penting dalam mendukung ketahanan pangan daerah.

 Selengkapnya bisa dilihat tabel pada link berikut: 

  Data WKPP, Gapoktan, Poktan dan LBS

Jumat, 19 Desember 2025

PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SAWAH 2025

 


1. Gambaran Umum

Secara keseluruhan, penerapan teknologi budidaya padi sawah di Kecamatan Payakumbuh Barat tahun 2025 telah melibatkan 28 kelompok tani (poktan) dengan 630 orang anggota. Total luas hamparan mencapai 400,12 Ha, namun yang benar-benar menerapkan minimal 3 komponen Panca Usaha Tani hanya 144 petani dengan luas tanam 73 Ha.

Hal ini menunjukkan bahwa:

  • Tingkat adopsi teknologi masih terbatas, karena hanya sekitar 18,9% anggota poktan (144 dari 630 orang) yang menerapkan teknologi.
  • Dari sisi lahan, luas tanam dengan penerapan teknologi baru sekitar 18,2% dari total hamparan.

2. Analisis per Wilayah Binaan (Wilbi)

🔹 Wilbi I

  • Poktan: 4
  • Anggota: 117 orang
  • Luas hamparan: 65,46 Ha
  • Petani menerapkan teknologi: 43 orang
  • Luas tanam teknologi: 16 Ha

Analisis:
Wilbi I menunjukkan partisipasi petani cukup baik, dengan proporsi petani penerap teknologi yang relatif tinggi dibanding wilayah lain. Hal ini mengindikasikan peran pendampingan dan kesadaran teknologi yang sudah mulai berkembang.

🔹 Wilbi II

  • Poktan: 6
  • Anggota: 123 orang
  • Luas hamparan: 85,29 Ha
  • Petani menerapkan teknologi: 22 orang
  • Luas tanam teknologi: 13,5 Ha

Analisis:
Walaupun memiliki jumlah poktan dan luas hamparan cukup besar, jumlah petani penerap teknologi masih rendah. Ini menunjukkan adanya potensi peningkatan adopsi teknologi melalui intensifikasi penyuluhan.

🔹 Wilbi III

  • Poktan: 5
  • Anggota: 127 orang
  • Luas hamparan: 95,77 Ha
  • Petani menerapkan teknologi: 25 orang
  • Luas tanam teknologi: 12,5 Ha

Analisis:
Wilbi III memiliki luas hamparan terbesar, namun luas tanam teknologi belum sebanding. Hal ini mengindikasikan bahwa teknologi belum diterapkan secara optimal pada lahan yang tersedia.

🔹 Wilbi IV

  • Poktan: 5
  • Anggota: 108 orang
  • Luas hamparan: 64,47 Ha
  • Petani menerapkan teknologi: 22 orang
  • Luas tanam teknologi: 11 Ha

Analisis:
Wilbi IV menunjukkan kinerja yang relatif seimbang antara jumlah petani penerap dan luas tanam. Namun, intensitas teknologi masih dapat ditingkatkan.

🔹 Wilbi V

  • Poktan: 5
  • Anggota: 95 orang
  • Luas hamparan: 54,28 Ha
  • Petani menerapkan teknologi: 12 orang
  • Luas tanam teknologi: 6 Ha

Analisis:
Wilbi V memiliki tingkat adopsi teknologi paling rendah. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya minat petani dan skala usaha yang kecil.

🔹 Wilbi VI

  • Poktan: 3
  • Anggota: 60 orang
  • Luas hamparan: 34,85 Ha
  • Petani menerapkan teknologi: 20 orang
  • Luas tanam teknologi: 14 Ha

Analisis:
Wilbi VI tergolong wilayah paling efisien. Meskipun jumlah poktan dan luas hamparan relatif kecil, persentase petani dan luas tanam yang menerapkan teknologi cukup tinggi, menunjukkan efektivitas pendampingan dan kesiapan petani.

3. Analisis Kelurahan Spesifik

  • Kelurahan dengan penerapan teknologi tertinggi:
    • Tanjung Pauh (6,5 Ha)
    • Talang (10 Ha)
    • Ibuah & Tanjunggadang Sei Pinago (masing-masing 7 Ha)

4. Analisis Penerapan Panca Usaha Tani

Berdasarkan keterangan, petani yang tercatat telah menerapkan minimal 3 dari 5 komponen Panca Usaha Tani, yaitu:

  • Penggunaan benih unggul dan bersertifikat
  • Pengolahan tanah dua tahap
  • Pemupukan tepat (jenis, dosis, waktu, cara, sasaran)
  • Pengendalian OPT
  • Pengairan yang baik

Namun, masih diperlukan:

  • Peningkatan kualitas penerapan, bukan hanya kuantitas petani
  • Standarisasi teknologi agar penerapan tidak parsial

5. Kesimpulan

  1. Penerapan teknologi budidaya padi sawah di Kecamatan Payakumbuh Barat tahun 2025 belum optimal, baik dari sisi jumlah petani maupun luas lahan.
  2. Wilbi VI dan Wilbi I menunjukkan kinerja terbaik dalam adopsi teknologi.
  3. Beberapa kelurahan memiliki potensi besar namun belum tersentuh teknologi.
  4. Diperlukan:
    • Penguatan penyuluhan dan pendampingan
    • Demonstrasi plot (demplot) Panca Usaha Tani
    • Peningkatan peran poktan sebagai penggerak adopsi teknologi 

 Lebih jelasnya dapat dilihat tabel pada link dibawah ini:

Penerapan Teknologi Budidaya padi sawah 

HASIL PENILAIAN KELAS KEMAMPUAN KELOMPOK TANI PAYAKUMBUH BARAT TAHUN 2025

  1. Gambaran Umum Jumlah kelompok tani dinilai : 49 kelompok Penilaian membandingkan nilai tahun lalu dan tahun 2025 , serta ...